Pemkot Tangerang siapkan infrastruktur untuk penerapan RDF di wilayah tangani sampah

Kota Tangerang telah memulai persiapan infrastruktur untuk menerapkan teknologi refused derived fuel (RDF) dalam penanganan sampah di seluruh wilayahnya.
Di Benua Indah, Kecamatan Karawaci, terdapat Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang telah direvitalisasi dan dijadikan sebagai prototipe pengolahan sampah berbasis teknologi untuk wilayah sekitar. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Wawan Fauzi di Tangerang Kamis, TPST Benua Indah akan mendapatkan gedung rehabilitasi dan akan dilengkapi dengan peralatan RDF.
Menurutnya, penanganan masalah sampah merupakan fokus utama dalam agenda pembangunan kota. Pada tahun 2025, DLH akan berfokus pada pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan untuk mencapai tujuan tersebut.
“Ini merupakan upaya penting dalam meningkatkan kualitas hidup warga Kota Tangerang serta menjaga kebersihan lingkungan kita,” ujar Wawan.
Menjaga lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman bagi masyarakat adalah prioritas utama Pemerintah Kota Tangerang. Untuk mengatasi masalah sampah, kami telah merancang langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan ini. Kita semua harus bekerja sama dalam menciptakan kota yang lebih bersih dan lebih baik untuk kita semua.
Sesuai perintah kementerian, Kota Tangerang akan segera menyelesaikan Keputusan Wali Kota tentang Peta Jalan Akselerasi untuk Menyelesaikan Pengelolaan Sampah di wilayahnya.
“Penyusunan rencana kerja ini akan menjadi pedoman untuk pengelolaan sampah dan juga menyertakan penyusunan rencana induk pengelolaan sampah (RIPS) atau master plan untuk penataan sampah di Kota Tangerang,” kata beliau.
Untuk merapikan pengelolaan sampah di Kota Tangerang, DLH telah menutup semua tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada di jalan protokol. Ini merupakan salah satu langkah yang dilakukan pada tahun ini untuk meningkatkan tata kelola sampah yang lebih teratur dan terpusat.
“Kami telah memiliki dukungan yang memadai untuk pengelolaan limbah, termasuk 456 tempat pembuangan sementara, 209 armada, 238 becak motor, teknologi biokonversi maggot, tujuh tempat pengelolaan limbah reuse, reduce, recycle (TPS3R), dan satu unit instalasi pengolahan sampah,” ucapnya.